Kamis, 15 Oktober 2015
Tulisanku untuk Negriku
Tersenyum kecut membaca uraian pemikiran orang Indonesia, di internet barusan. Ini saya copy pastekan. Mungkin segera dapat jadi memori kolektif? ..
Begini katanya :
Jika terapan cita-cita luhur Pembukaan UUD45 sukses terkhianati oleh negara sejak era presiden ke dua : membangun negeri ini justru dari hutang luar negeri, mengizinkan aneka mata rantai raksasa investasi swasta dunia untuk mengelola isi pasal 33 UUD45, tradisi tinggal import atas semua kebutuhan rakyat dan negara, maka jelas, makna Agama cuma Topeng Pencari Keuntungan dan alat onani massa saja. (Tragedi kemanusiaan atas nama kepentingan ekonomi yang menggila pasti terjadi. Mana ada sejarahnya kapitalisme yang tidak serakah dan tidak egoist?) Bohong jika rentetan pejabat dan rakyat yang tidak menyadari realita ini. (Ini awal sumber tragedi Korupsi Massal?!)
Illustrasi gambar ini; Cocok dengan pandangan pemahaman Internasional dalam Liberal Ekonomi yang diam-diam di adopt Indonesia;
"Tragedi akan menimpa rakyat? Biarkan. Jangan khawatir, mereka akan cari selamat sendiri-sendiri.."
Kekusutan realita negeri ini, siasat para jenderal sebagai ahli strategi tempur dilapangan, memang canggih merebut keuntungan sendiri dari penanaman kebijakan salah jenderal presiden kedua.
Kenapa? Tidakkah mereka tahu bahwa berhutang ke luar negeri akan menghancurkan bargaining posisi negeri ini di peta percaturan ekonomi dunia?
Duheei.. Kami, para Jenderal, sesudah presiden kedua, jelas hampir mati langkah. Mengapa? Aneka perjanjian tertulis bertopeng kontrak kerjasama ekonomi antar negara, begitu banyak mendominasi. Jika kami batalkan demi Nasionalisasi, apa kata Duniaa?
Jika kami rubah tata pondasi negeri ini, agar tidak ada ketimpangan berdasar realita serba investasi asing, apa kata leluhur Indonesiaa?? Serba salah. Tak ada cara lain, buat rakyat, selain melanjutkan yang ada ; Mencari keuntungan diantara keruhnya keadaan. Ya. Pura buta - Pura tuli, istilah kasarnya. : Tetap berdoa dan tetap optimis berupaya ikhtiar, istilah positif nya. Selesai.
Sementara ... Jika kamu berhutang banyak sekali pada seseorang, maka seseorang itu akan memiliki dirimu, bukan?
Daulat gugat elegan rakyat sampai akhirnya bonsai, tumpul dan punah, karena bingung sendiri.. Masing dikejar kebutuhan se hari-hari..
Ibu Pertiwi kok tanpa kekuatan swasembada apa-apa? Tak sempat lagi direnungkan. Jualan tata aturan baku atau jualan agama-lah yang cocok karena romantisme agama tinggi dimasyarakat kita, terlebih tengah tergencet invasi aneka mata rantai raksasa2 investasi swasta dunia.. (Yang masing menebar tradisikan irama Liberal Ekonomi.. )
Puyeng.. jika melenceng itu sudah bersifat massa.
***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar