Kamis, 15 Oktober 2015

ANTARA FREEPORT & KERUSUHAN SINGKIL:

Apakah keduanya terkait? Andaikata tidak ada "deal" antara PT Freeport Indonesia (PTFI) dan pemerintah Indonesia perihal perpanjangan kontrak hingga 2041, barangkali tidak ada pula kasus kerusuhan di Singkil. Kerusuhan yg melibatkan skala massa hanya bisa digerakkan melalui instrumen intelijen. Indikasinya, bahwa setiap kali kerusuhan tersebut selalu melibatkan media yg berperan sebagai "booster" propaganda dan isu.

Saya menuliskan, bahwa perpanjangan kontrak PTFI kali ini boleh dikata cukup istimewa, karena PTFI diberikan hak mengelola Grasberg yg volumenya itu kalau dikeruk setiap hari bakal habis sampai 20 tahun. Meskipun telah membungkam media dgn penggiringan opininya Rizal Ramli dan Sudirman Said, toh dianggap belum mampu meredam munculnya isu-isu yg dikhawatirkan akan mengganggu kepercayaan kepada pemerintah.

Boleh dikatakan bahwa 80% orang Indonesia itu belum mengetahui apakah yg sesungguhnya terjadi di Timika, Papua. "Tombol" intelijen pun harus bekerja, yakni dgn mengaktifkan "kerusuhan" di Singkil, Aceh. Setiap kalinya kerusuhan yg bernuansa "SARA" akan didesain sedemikian mungkin menyedot perhatian masyarakat Indonesia. 

Akibatnya, masyarakat menjadi tidak fokus lagi kepada perampokan besar-besaran di Timika. Supaya diketahui oleh pembaca, bahwa dalam perpanjangan kontrak kali ini PTFI boleh dikata mendapatkan keuntungan yg cukup besar sekali, sementara pihak Indonesia dirugikan paling besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar