Kamis, 15 Oktober 2015

PAPUA DARURAT ASAP

Tidak banyak orang tahu. Tidak banyak media nasional yg meliput. Bahwa di Provinsi Papua, seminggu ke belakang sudah merasakan udara yg tidak lagi segar seperti udara Papua biasanya.
Kabut asap sudah menyelimuti langit Papua, terutama di Kabupaten Merauke, Mappi, Boven Digul dan Mimika. Setidaknya sudah ditemukan 15 hot spot (titik api) yg berasal dari hutan dan lahan yg dibakar.
Perbuatan cuaca terutama 'elnino'. Ini yg digaungkan. Parahnya lagi, isu yg dikembangkan kepada masyarakat bahwa asap ini berasal dari Papua New Guinea. Padahal, faktanya adalah dari hutan dan lahan di daerah-daerah di provinsi Papua.
Perlu diingat bahwa ijin pembukaan lahan dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Yg sudah sewajarnya bahwa tanggung jawab atas pemberian ijin tersebut menjadi tanggung jawab pemerintah pusat juga.
Omong kosong dengan musim kemarau. Omong kosong dengan elnino. Musim kemarau dan elnino yg Tuhan berikan tidak pernah membawa api di hutan-hutan Papua yg indah. Hanya keserakahan segelintir manusia rakus dan ijin dari penguasa yg haus yg mengakibatkannya.
Maka, bagi saya tidak masuk akal jika pemerintah pusat berlepas tanggung jawab akan hal tersebut di atas. Apalagi bermain skenario lain (baik isu agama dan atau isu lainnya) untuk menutupi tanggung jawab yg belum ditunaikannya sebagai konsekuensi pemberian ijin pembukaan lahan kepada para kapitalis perusahaan penyokongnya.
Tindakan tegas bagi pelaku pembakaran hanya lipstik merah yg menutupi boroknya mulut sang penguasa. Bertindak tegas kepada mereka yg diberikan ijin adalah harapan yg sudah menjadi tinggal kenangan.
Lalu, akankah kita biarkan? Tidak!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar